Sabtu, 08 Januari 2011

Makalah Trenggiling

TRENGGILING
(Manis javanica)


1.      Nama Lokal               : Trenggiling
Nama Ilmiah              : Manis javanica
2. 
 
TRENGGILING    
Klasifikasi      :
Kingdom         : Animalia
Phyllum           : Chordata
Sub Phyllum    : Vertebrata
Classis             : Mammalia
Ordo                : Polidota
Familia            : Manidae
Genus              : Manis
Species            : Manis javanica


4.      Deskripsi

Trenggiling (Manis javanica) mempunyai bentuk tubuh yang memanjang, dengan lidah yang dapat dijulurkan hingga sepertiga panjang tubuhnya untuk mencari semut di sarangnya. Tenggiling adalah haiwan yang tergolong dalam golongan kelas Mamalia. Tenggiling adalah haiwan berdarah panas, melahirkan anak, menjaga anak, dan mempunyai bulu dan sisik di badan. Tubuh tenggiling lebih besar dari kucing. Kakinya pendek dan ekornya panjang. Tubuhnya bersisik. Sisik pada bagian punggung dan bagian luar kaki tenggiling berwarna coklat terang. Ia tidak mempunyai gigi. Ia memangsa makanan berupa semut dan serangga menggunakan lidahnya. Jantung Tenggiling terdiri daripada 4 bahagian seperti manusia. Bahagian atas dikenali sebagai atrium, sementara bagian bawah dikenali sebagai ventrikel.
  Rambutnya termodifikasi menjadi semacam sisik besar yang tersusun membentuk perisai berlapis sebagai alat perlindungan diri. Jika diganggu, trenggiling akan menggulungkan badannya seperti bola. Ia dapat pula mengebatkan ekornya, sehingga "sisik"nya dapat melukai kulit pengganggunya. Trenggiling mempunyai lidah yang mampu dijulurkan hingga sepertiga panjang tubuhnya. Lidah ini berguna untuk menangkap semut dan rayap yang merupakan makanan utamanya. Lidahnya digunakan untuk menjilat buruannya. Semut dan rayap akan melekat di lidah trenggiling berkat ludahnya. Di bagian dada trenggiling terdapat kelenjar ludah yang sangat besar. Kelenjar ini menghasilkan cairan yang bisa merekat insek. Trenggiling (Manis javanica) merupakan binatang nokturnal yang aktif melakukan kegiatan hanya di malam hari. Satwa langka ini mampu berjalan beberapa kilometer dan balik lagi kelubang sarangnya yang ditempatinya untuk beberapa bulan. Binatang ini mempunyai bentuk tubuh khas yang memanjang dan tertutupi sisik. Panjang dari kepala hingga pangkal ekor mencapai 58 cm. Panjang ekor mencapai 45 cm. Berat tubuh trenggiling sekitar 2 kg.


5.      Habitat Trenggiling (Manis javanica)
Trenggiling (Manis javanica) habitatnya di daerah hutan hujan tropika amat sesuai sebagai habitat hidupan liar ini. Trenggiling kadang juga dikenal sebagai anteater. Tinggal di lubang-lubang bawah pokok, bagian akar pohon, dalam lubang dan sarang anai-anai dan semut yang digali, serta pada batang pokok yang berlubang.
6.      Makanan Trenggiling (Manis javanica)
Makanan kegemaran Tenggiling ini adalah dari spesies semut dan anai-anai. Secara biologinya trenggiling adalah pengawal semula jadi populasi anai-anai di hutan kita. Coba bayangkan sekiranya Tenggiling sudah pupus dari dunia ini. Maka anai-anai bermaha rajalela dan habis semua pokok balak dan pokok -pokok buah buahan hutan tumbang kerana telah dimakan anai-anai. Dan akhirnya tiada lagi pokok-pokok besar dan tiada lagi pokok-pokok induk bagi melahirkan generasi pokok yang baru dan akhirnya tiada lagi hutan di negara kita.


7.      Siklus Hidup Trenggiling (Manis javanica)
Trenggiling (Manis javanica) mempunyai siklus hidup bahwa melkukan perkembamgbiakan dengan beranak (vivipar). Trenggiling dapat tumbuh hingga sepanjang 85 sentimeter. Sedang pada jenis lain berkisar dari 30 cm hingga 100 cm. Hidup di permukaan tanah, trenggiling mampu memanjat pohon. Ketika baru lahir, lapisan sisiknya masih empuk. Setelah tumbuh dewasa sisik ini berubah mengeras. Sisik tersebut sebetulnya serupa dengan rambut pada satwa lainnya. Trenggiling dalam melindungi diri dari serangan bisa melingkar membentuk seperti bola. Dan memang sisiknya yang berlapis berperan sebagai tameng, sama seperti tank.
8.      Biogeografi Trenggiling (Manis javanica)
Trenggiling (Manis javanica) satwa ini tersebar di Nias, Mentawai, Sumatera, Riau. Pulau Lingga, Kalimantan, tentu saja di Jawa hingga Bali dan Lombok. Bisa dikatakan tersebar di Indonesia Barat. Bahkan sejenisnya pun bisa dijumpai di Burma, Malaysia–Singapura dan Filipina. Sedangkan saudara sejenisnya bisa dijumpai sampai di Afrika. Selain terdapat di pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan (Indonesia) juga terdapat di negara Malaysia, Brunei Darussalam, Kamboja, Laos, Myanmar, Thailand, dan Vietnam.
9.      Keistimewaan Trenggiling (Manis javanica)


Trenggiling (Manis javanica) mempunyai rambut yang termodifikasi menjadi semacam sisik besar yang tersusun membentuk perisai berlapis sebagai alat perlindungan diri. Jika diganggu, trenggiling akan menggulungkan badannya seperti bola. Ia dapat pula mengebatkan ekornya, sehingga "sisik"nya dapat melukai kulit pengganggunya. Trenggiling terancam keberadaannya akibat habitatnya terganggu serta menjadi obyek perdagangan hewan liar. Trenggiling (Manis javanica) merupakan binatang nokturnal yang aktif melakukan kegiatan hanya di malam hari. Satwa langka ini mampu berjalan beberapa kilometer dan balik lagi kelubang sarangnya yang ditempatinya untuk beberapa bulan.
Diwaktu siang Trenggiling bersembunyi di lubang sarangnya. Diantaranya ada yang tinggal diatas dahan pohon. Binatang ini suka bersarang pada lubang-lubang yang berada dibagian akar-akar pohon besar atau membuat lubang di dalam tanah yang digali dengan menggunakan cakar kakinya. Atau ia menempati lubang-lubang bekas hunian binatang lainnya. Pintu masuk kelubang sarang selalu ditutupnya. Satwa unik ini semakin hari semakin langka akibat banyaknya perburuan. Perburuan ini dipicu oleh mahalnya harga daging dan sisik trenggiling. Di pasaran gelap, harga daging trenggiling mencapai Rp. 1 juta per kg. Sedangkan sisik trenggiling dihargai Rp. 9000 per keping. Daging dan sisik satwa ini banyak diekspor ke China, Singapura, Thailand, Laos, dan vietnam untuk digunakan sebagai bahan kosmetika, obat kuat, dan santapan di restoran. Sisiknya sendiri sering di pakai sebagai salah satu bahan pembuat shabu-shabu.
Di Indonesia satwa ini dilindungi, dan menurut CITES masuk dalam Appendix II yang artinya dilarang diperdagangkan. Sedang IUCN mencantumkannya dalam daftar risiko rendah serta hampir punah. Hidup di hutan dataran rendah, trenggiling menyantap semut dan rayap. Memiliki cakar yang panjang dan lidah yang menjulur sama panjangnya, memungkinkan satwa ini mengoyak sarang semut dan rayap. Lidahnya digunakan untuk menjilat buruannya. Semut dan rayap akan melekat di lidah trenggiling berkat ludahnya. Di bagian dada trenggiling terdapat kelenjar ludah yang sangat besar. Kelenjar ini menghasilkan cairan yang bisa merekat insek. Ia menjadi terancam karena bagi masyarakat Asia Tenggara ia juga disantap. Kabarnya rasa daging trenggiling yang berukuran kecil mirip daging bebek. Namun penyebab utama kepunahannya adalah rusaknya habitat trenggiling. Hutan yang dihabiskan di Asia Tenggara, India dan Afrika yang terutama menyebabkan satwa ini masuk dalam daftar mereka yang patut dilestarikan. Trenggiling dapat tumbuh hingga sepanjang 85 sentimeter. Sedang pada jenis lain berkisar dari 30 cm hingga 100 cm. Hidup di permukaan tanah, trenggiling mampu memanjat pohon. Ketika baru lahir, lapisan sisiknya masih empuk. Setelah tumbuh dewasa sisik ini berubah mengeras. Sisik tersebut sebetulnya serupa dengan rambut pada satwa lainnya. Trenggiling dalam melindungi diri dari serangan bisa melingkar membentuk seperti bola. Dan memang sisiknya yang berlapis berperan sebagai tameng, sama seperti tank. 

10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar